Ringkasan cerita
- BMKG memutakhirkan parameter gempa yang terjadi pada 12 September pukul 04.23 WIB menjadi magnitudo 6,5 pada kedalaman 368 kilometer.
- Episenter berada di laut timur laut Kepulauan Seribu; pemodelan BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.
- Guncangan dilaporkan terasa dari wilayah Banten dan Jawa Barat hingga Yogyakarta, Padang, serta sejumlah daerah lain.
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Kepulauan Seribu dan sekitarnya pada Sabtu, 12 September 2026 pukul 04.23 WIB dimutakhirkan BMKG menjadi magnitudo 6,5 dengan kedalaman 368 kilometer. Pemodelan BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.[1][2]
Fakta terverifikasi
Menurut keterangan BMKG yang dikutip Kompas, episenter berada di laut timur laut Kepulauan Seribu. BMKG mengategorikannya sebagai gempa dalam dan menyebut pemantauan hingga pukul 05.00 WIB belum menunjukkan aktivitas gempa susulan.[1]
Guncangan terasa paling kuat pada skala IV MMI di sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, dan Tanggamus. Getaran juga dilaporkan terasa di Tangerang, Tanjung Priok, Yogyakarta, Padang, serta beberapa wilayah lain dengan intensitas lebih rendah.[2][3]
Antara sebelumnya melaporkan parameter awal M5,9 dengan kedalaman 376 kilometer dan menyatakan BMKG tidak mendeteksi potensi tsunami. Perbedaan itu merupakan bagian dari pemutakhiran parameter, sehingga angka M6,5 digunakan sebagai parameter terbaru dalam artikel ini.[4]
Yang belum jelas
Sumber yang diperiksa belum memuat laporan terverifikasi mengenai korban atau kerusakan material akibat gempa. Pemantauan BMKG masih dapat menghasilkan pembaruan parameter maupun informasi gempa susulan.[1][2]
Mengapa penting sekarang
Gempa ini penting karena guncangannya dirasakan di wilayah yang luas, termasuk kawasan Jabodetabek dan sejumlah provinsi di luar Jawa Barat. Meski BMKG menyatakan tidak berpotensi tsunami, warga tetap perlu menghindari bangunan yang retak atau rusak dan mengikuti kanal resmi BMKG.[1]
Penyebaran sosial
Pembaruan BMKG menyebar melalui akun resmi lembaga tersebut di X, sementara laporan Kompas dan Antara memperluas informasi tentang intensitas guncangan dan status tsunami.[1][2] Perhatian di media sosial tidak digunakan sebagai bukti tambahan mengenai dampak atau tingkat kerusakan.[2]
Riwayat pembaruan
Artikel ini akan diperbarui jika BMKG atau BNPB menerbitkan informasi baru mengenai gempa susulan, korban, kerusakan, atau perubahan status kebencanaan.[2]
Sources
[1] https://x.com/infoBMKG/status/2098548590650269722 — BMKG: pembaruan parameter gempa Kepulauan Seribu [2] https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/12/070705965/jakarta-diguncang-gempa-m-65-pagi-ini-berikut-analisis-bmkg — Jakarta Diguncang Gempa M 6,5 Pagi Ini, Berikut Analisis BMKG [3] https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/12/073717765/getaran-gempa-jakarta-terasa-kuat-di-sukabumi-dan-guncangannya-capai-padang — Getaran Gempa Jakarta Terasa Kuat di Sukabumi dan Guncangannya Capai Padang [4] https://www.antaranews.com/berita/5737411/gempa-magnitudo-59-guncang-kepulauan-seribu-tak-berpotensi-tsunami — Gempa magnitudo 5,9 guncang Kepulauan Seribu, tak berpotensi tsunami
Yang sudah terverifikasi
- BMKG melalui kanal resminya menerbitkan pembaruan parameter gempa Kepulauan Seribu pada 12 September 2026.
- Kompas melaporkan parameter pembaruan M6,5, kedalaman 368 kilometer, serta status tidak berpotensi tsunami berdasarkan keterangan BMKG.
- Kompas mencatat intensitas hingga IV MMI di beberapa wilayah Banten, Jawa Barat, dan Tanggamus, serta getaran lebih lemah di wilayah yang lebih jauh.
- Antara melaporkan parameter awal M5,9 dan keterangan BMKG bahwa gempa tidak berpotensi tsunami.
Yang masih belum jelas
- Belum ada laporan terverifikasi mengenai korban atau kerusakan material dalam sumber yang diperiksa hingga pembaruan ini.
- Parameter awal dan parameter pemutakhiran berbeda; angka M6,5 dipakai sebagai parameter terbaru yang dikutip dari BMKG.
- Pemantauan gempa susulan masih berlangsung dan informasi BMKG dapat diperbarui.
Percakapan dan penyebaran
Peristiwa ini menjadi perhatian di X melalui pembaruan akun resmi BMKG dan diberitakan Kompas serta Antara pada pagi 12 September WIB. Penyebaran sosial dipakai sebagai sinyal kewaspadaan, bukan bukti tambahan tentang korban atau kerusakan.